Sejak awal kelahirannyya, agama Islam telah mengajari umatnya dengan tradisi membaca, mengkaji, dan menulis. Karena itu dalam kurun waktu yang panjang umat Islam telah membentuk sebuah tradisi keilmuannya sendiri yang tak lekang oleh zaman. Bahkan hasil karya tulis ilmuwan muslim dianggap laksana lautan tinta yang tak bertepi. Hebatnya lagi, karya-karya tulis tersebut juga seringkali dianggap sakral karena ditulis oleh para ulama yang memiliki dua kelebihan; keilmuan yang mendalam (daqiq) dan akhlaq serta kepribadian yang luhur.
Dalam terakhir degradasi moral yang melanda dunia pendidikan semakin meningkat. Baik degradasi moral yang kaitannya dengan nilai akidah, akhlaq, maupun syariat. Hal itu bisa dilihat dari perilaku – perilaku seperi tawuran antar pelajar, demontrasi-demontrasi anarkis mahasiswa
Pada edisi lalu (09/VI) disebutkan sejumlah kekhasan dan keunikan kitab kuning. Masih banyak lagi keunikan lain yang menjadi ciri khas kitab kuning. Salah satunya ialah ia tidak mengenal pembabakan alinea atau paragraf. Sebagai pembatas antar obyek pembahasan digunakan kata kitâbun. Kitabun ini masih dibagi lagi ke bagian-bagian yang semakin kecil dengan urutan bâbun, fashlun, raf’un, tanbih dan tatimmatun. Kekhasan lainnya, isi kandungan kitab banyak berbentuk duplikasi dan pemaparan dari karya ilmiah ulama sebelumnya.
Pada bagian lalu juga sudah diceritakan tentang pengembangan kitab-kitab matan (teks awal) menjadi dikembangkan menjadi ringkasan (mukhtashar atau khulashah), penjabaran (syarah), komentar (hasyiyah), dan catatan pinggir (hamisy). Selain itu, dalam sebuah kitab kuning juga dicantumkan taqrir dan ta’liq yang maknanya hampir senada dengan hamisy.
Secara guyonan kalangan pesantren sering mengatakan, dalam tradisi kitab kuning ternyata juga ada sistem reproduksi seperti manusia, yakni dari orang tua melahirkan anak kemudian cucu, lalu buyut dan seterusnya. Ambil contoh kitab Taqrib karya Al-Qadhi Husein Abu Syuja’.
Dari matan Taqrib itu lahir kitab syarah Fathul Qarib karya Abul Qasim dan belakangan At-Tahdzib karya Musthafa Dibul Bighah. Lalu dari syarah Fathul Qadir tersebut belakangan dibuat hasyiyahnya oleh dua ulama Imam Al-Bajuri dengan Hasyiyah Al-Bajuri-nya dan Syaikh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar