Kamis, 10 Maret 2011

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga FM – UINSK – BN – 05 – 01 / RO


Yogyakarta, 11 Januari 2011

Hal :Pengajuan Penyusunan Skripsi / Tugas Akhir

Kepada Yth

Ketua Jurusan Kependidikan Islam

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Asslamu `alaikum Wr,Wb

Dengan hormat, saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Nur Rochim

Nim : 07470053

Jurusan : Kependidikan Islam

Semester : 7 ( Tujuh )

Fakultas : Tarbiyah dan Keguruan

Mengajikan tema sripsi / tugas akhir sebagai berikut :

  1. Implementasi Konsep Edutainment dalam Pendidikan Islam di TKA Tunas Melati Umbulharjo Yogyakarta.
  2. Efektivitas manajemen kepala sekolah terhadap motivasi guru dan peserta didik. ( Studi kasus di TKA Tunas Melati Umbulharjo Yogyakarta )
  3. Pengembangan manajemen pendidikan agama islam di TKA Tunas Melati Umbulharjo Yogyakarta.

Besar harapan saya salah satu tema di atas dapat disetujui, dan atas perhatian Bapak / Ibu di ucapkan terima kasih.

Wasslamu `alaikum Wr,Wb

Menyetujui

Penasehat Akademik Pemohon

Dra Nur Rohmah Nur Rochim

Nip. Nim.07470053

islam

Sejak awal kelahirannyya, agama Islam telah mengajari umatnya dengan tradisi membaca, mengkaji, dan menulis. Karena itu dalam kurun waktu yang panjang umat Islam telah membentuk sebuah tradisi keilmuannya sendiri yang tak lekang oleh zaman. Bahkan hasil karya tulis ilmuwan muslim dianggap laksana lautan tinta yang tak bertepi. Hebatnya lagi, karya-karya tulis tersebut juga seringkali dianggap sakral karena ditulis oleh para ulama yang memiliki dua kelebihan; keilmuan yang mendalam (daqiq) dan akhlaq serta kepribadian yang luhur.
Dalam terakhir degradasi moral yang melanda dunia pendidikan semakin meningkat. Baik degradasi moral yang kaitannya dengan nilai akidah, akhlaq, maupun syariat. Hal itu bisa dilihat dari perilaku – perilaku seperi tawuran antar pelajar, demontrasi-demontrasi anarkis mahasiswa

Pada edisi lalu (09/VI) disebutkan sejumlah kekhasan dan keunikan kitab kuning. Masih banyak lagi keunikan lain yang menjadi ciri khas kitab kuning. Salah satunya ialah ia tidak mengenal pembabakan alinea atau paragraf. Sebagai pembatas antar obyek pembahasan digunakan kata kitâbun. Kitabun ini masih dibagi lagi ke bagian-bagian yang semakin kecil dengan urutan bâbun, fashlun, raf’un, tanbih dan tatimmatun. Kekhasan lainnya, isi kandungan kitab banyak berbentuk duplikasi dan pemaparan dari karya ilmiah ulama sebelumnya.
Pada bagian lalu juga sudah diceritakan tentang pengembangan kitab-kitab matan (teks awal) menjadi dikembangkan menjadi ringkasan (mukhtashar atau khulashah), penjabaran (syarah), komentar (hasyiyah), dan catatan pinggir (hamisy). Selain itu, dalam sebuah kitab kuning juga dicantumkan taqrir dan ta’liq yang maknanya hampir senada dengan hamisy.
Secara guyonan kalangan pesantren sering mengatakan, dalam tradisi kitab kuning ternyata juga ada sistem reproduksi seperti manusia, yakni dari orang tua melahirkan anak kemudian cucu, lalu buyut dan seterusnya. Ambil contoh kitab Taqrib karya Al-Qadhi Husein Abu Syuja’.
Dari matan Taqrib itu lahir kitab syarah Fathul Qarib karya Abul Qasim dan belakangan At-Tahdzib karya Musthafa Dibul Bighah. Lalu dari syarah Fathul Qadir tersebut belakangan dibuat hasyiyahnya oleh dua ulama Imam Al-Bajuri dengan Hasyiyah Al-Bajuri-nya dan Syaikh